METRO — Gelombang perlawanan terhadap narasi “hoaks” yang dilontarkan Pemerintah Kota Metro kian memanas. Ribuan pendekar dari berbagai daerah di Provinsi Lampung disebut siap turun ke Kota Metro sebagai bentuk solidaritas dan sikap tegas terhadap apa yang dinilai sebagai upaya pembungkaman kritik. Jumat, 03/04/2026.

Data yang beredar menyebutkan kekuatan massa Pendekar Banten dan berbagai perguruan silat akan datang dari sejumlah wilayah: Lampung Tengah sekitar 5.000 orang, Kota Metro 7.500 orang, Bandar Lampung 5.000 orang, Lampung Timur 5.000 orang, Pesawaran 5.000 orang, Pringsewu 5.000 orang, hingga Tanggamus 5.000 orang.
Aksi besar ini disebut akan melibatkan berbagai unsur perguruan dan organisasi, seperti Pendekar Banten, TTKKBI, TTKKDH, Bandrong dan Kera Sakti.
Seruan “menghitamkan Kota Metro” pun mencuat sebagai simbol perlawanan moral bukan sekadar unjuk kekuatan, tetapi bentuk kekecewaan mendalam terhadap sikap Pemkot Metro yang dinilai mudah melabeli kritik publik sebagai hoaks.
Sejumlah tokoh menilai, langkah Pemkot Metro yang menggiring isu ke ranah hukum justru memperkeruh suasana dan memperlihatkan sikap anti kritik.
“Ini bukan soal siapa kuat, tapi soal kebenaran. Jangan bungkam suara rakyat dengan label hoaks. Kalau merasa benar, buka data, jelaskan ke publik,” tegas salah satu perwakilan pendekar.
Situasi ini menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Kota Metro agar tidak alergi terhadap kritik. LSM, ormas, dan insan pers disebut bekerja berdasarkan fakta di lapangan, bukan membangun opini tanpa dasar.
Jika tidak segera diredam dengan keterbukaan dan klarifikasi yang jujur, gelombang massa yang terus membesar dikhawatirkan akan berubah menjadi tekanan publik yang jauh lebih besar.
Kota Metro kini berada di persimpangan: membuka diri terhadap kritik atau menghadapi gelombang perlawanan yang semakin tak terbendung.














