“Didukung LSM & Ormas, Tb. Ismail Saleh Gas Puluhan Ribu Pendekar! ‘Jangan Bungkam Rakyat, Ini Negara Demokrasi!’”

banner 120x600

METRO —  Gelombang dukungan terhadap Ketua Pendekar Banten Metro, H. Tb Ismail Saleh, SH, kian membesar dan meluas. Sikap tegasnya yang menolak pelabelan “hoaks” terhadap kritik publik kini mendapat backing kuat dari berbagai elemen, mulai dari LSM, ormas, hingga masyarakat sipil. Jumat, 03/04/2026.

 

Pernyataan keras itu bukan tanpa alasan. Sejumlah tokoh menilai, narasi “hoaks” yang diarahkan pada kritik justru menjadi bentuk pembungkaman yang mencederai prinsip demokrasi.

 

Dalam komunikasi yang beredar, aliansi elemen masyarakat menyuarakan sikap tegas: kritik adalah bagian dari kontrol sosial, bukan ancaman.

 

“Kalau semua kritik dianggap hoaks, lalu di mana letak good governance? Pemerintahan yang baik itu terbuka, transparan, dan siap dikritik,” tegas Ma Rendy Saputra Ketua NGO KMPL (Non Goverment Organization Koalisi Masyarakat Peduli Lampung).

 

Merespons derasnya dukungan tersebut, Tb. Ismail Saleh menyatakan kesiapan penuh untuk menggerakkan kekuatan besar pendekar. Bahkan, bukan hanya ribuan, bahkan puluhan ribu pendekar disebut siap turun jika ruang kebebasan berpendapat terus dibatasi.

“Kita gas! Pendekar siap turun. Ini aksi damai, tapi tegas. Jangan pernah larang rakyat bersuara!” tegas Ismail dengan nada lantang.

 

Gerakan ini tidak hanya berhenti pada aksi. Aliansi LSM dan ormas juga tengah menyiapkan forum diskusi terbuka yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Fokusnya jelas: mendorong keterbukaan informasi publik serta memastikan tata kelola pemerintahan berjalan transparan, akuntabel, dan tidak anti kritik.

 

Peringatan keras pun kembali digaungkan. Sikap defensif dan pelabelan hoaks dinilai bukan solusi, melainkan cerminan lemahnya komitmen terhadap demokrasi.

“Jangan bungkam suara rakyat. Pemerintah itu diawasi, bukan anti kritik. Kalau benar, buktikan dengan data, bukan narasi,” lanjut pernyataan tersebut dengan nada tajam.

 

Kini, sorotan publik tertuju penuh ke Pemerintah Kota Metro. Di tengah gelombang dukungan yang terus membesar, pilihan pun kian jelas: membuka ruang dialog secara transparan atau menghadapi tekanan publik yang semakin tak terbendung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *