Polri  

Air Dijaga Aparat, Warga Menunggu Janji: Krisis Berkepanjangan di Batu Ampar

banner 120x600

 

Batam  —  Indonesiapublik.com.
Sabtu (24/01/2026)  Krisis air bersih yang berkepanjangan di Kelurahan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, memaksa aparat kepolisian turun langsung mengamankan distribusi air bantuan. Polsek Batu Ampar dikerahkan untuk memastikan penyaluran air berjalan tertib, merata, dan tidak memicu konflik di tengah warga yang semakin tertekan akibat keterbatasan pasokan.

Pengamanan dilakukan di tengah belum terealisasinya pembangunan infrastruktur air bersih oleh BP Batam yang baru direncanakan mulai Februari 2026. Selama masa penantian tersebut, warga sepenuhnya bergantung pada suplai air darurat melalui mobil tangki.

Kapolsek Batu Ampar, Kompol Amru Abdullah, menyampaikan bahwa pengamanan distribusi air bersih dilakukan secara intensif karena air telah menjadi kebutuhan paling krusial dan sensitif bagi masyarakat.

“Personel kami siaga setiap hari, dari pagi hingga malam. Distribusi air harus dikawal agar tertib, tepat sasaran, dan tidak menimbulkan gesekan antarwarga,” ujar Kompol Amru Abdullah.

Untuk kebutuhan darurat, disiapkan suplai air bersih dengan kuota maksimal hingga 130 trip mobil tangki per hari. Jumlah tersebut melebihi kebutuhan aktual warga yang tercatat sekitar 84 trip per hari, sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi kekurangan pasokan di lapangan.

Pengamanan dilakukan secara terpadu bersama pihak kelurahan, kecamatan, serta perangkat RT dan RW. Aparat memastikan air benar-benar diterima oleh warga yang membutuhkan, sekaligus mencegah penumpukan massa dan potensi penyimpangan distribusi.

Sejumlah warga mengungkapkan bahwa sebelum adanya pengawalan aparat, pembagian air kerap berlangsung tegang. Antrean panjang dan rasa khawatir tidak kebagian air menjadi bagian dari keseharian.

“Air sekarang seperti barang mahal. Kami hidup menunggu tangki datang. Kalau terlambat, bisa tidak kebagian,” kata Rudi (45), warga Tanjung Sengkuang.

Kehadiran polisi di lapangan memang mampu menjaga ketertiban dan meredam potensi konflik sosial. Namun di sisi lain, kondisi ini memperlihatkan ironi pemenuhan kebutuhan dasar warga yang masih bergantung pada solusi darurat dan pengamanan aparat.

Selama infrastruktur air bersih belum terbangun, krisis ini berpotensi terus berulang. Aparat dapat menjaga ketertiban, tetapi air bersih tetap menuntut kepastian kebijakan. Dan selama warga masih menunggu tangki datang, janji aliran dari pipa belum benar-benar terwujud.
( Zulkifli Hasibuan )

Editor: Dwi Hartoyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *