Batam — Indonesiapublik.com
Ketika Besi Proyek Lebih Menggoda dari Cari Kerja Resmi. Malam biasanya waktu orang istirahat, tapi bagi tiga pemuda di Bengkong, justru jadi jam kerja.
Adalah MAS (22), ACS (21), dan JAS (19) nama panjangnya mungkin baru muncul di BAP yang memilih banting profesi menjadi “pelaku ekonomi gelap” di proyek pembangunan Ruko China Town, Kecamatan Bengkong.
Pada Jumat (16/1/2026) dini hari, mereka tertangkap tangan mengangkut ratusan batang besi dari lokasi proyek menggunakan mobil pribadi.
Aksi yang kalau dilihat dari jauh, mirip pegawai resmi yang telaten mengerjakan tugas.
Tapi kalau mendekat, jelas sekali izin kerja tidak ada, slip gaji tidak ada, dan niat jahat terlalu terlihat.
Beruntung orang proyek anggap sial Unit Reskrim Polsek Bengkong hadir tanpa basa-basi dan langsung mengakhiri shift kerja mereka.
“Pelaku kami amankan di TKP beserta barang bukti dan mobil,” kata Kanit Reskrim Polsek Bengkong, Iptu Apriadi.
Bahasa non-formalnya: belum sempat kabur, belum sempat bongkar besi, langsung masuk mobil polisi.
Pihak proyek merugi sekitar Rp15 juta, jumlah yang mungkin belum mengguncang neraca perusahaan, tapi cukup bikin mandor mikir ulang mempekerjakan satpam yang terlalu percaya dunia ini penuh kejujuran.
Polisi kini menggali lebih dalam kemungkinan bahwa ketiganya bukan pemain baru, melainkan freelancer kriminal yang sedang memperluas portofolio.
“Kasus masih kami kembangkan,” tegas Apriadi.
Alias: bisa jadi ini hanya puncak besi gunung es.
Dan di sinilah sentilan pahitnya—sesuatu yang tidak suka dibahas tapi makin terlihat jelas:
Batam, kota industri yang sibuk mengejar investasi, mulai kehabisan rem moral.
Pabrik berdiri, ruko tumbuh, galangan kapal mendesis, namun kesempatan ekonomi tidak merata.
Di satu sisi, ratusan lowongan tertempel di internet di sisi lain, muncul generasi yang lebih cepat belajar mencuri besi daripada mengisi CV.
Besi proyek yang seharusnya berdiri menjadi bangunan, nyaris berubah menjadi uang receh kilat, dipindah dengan kendaraan milik sendiri.
Selisih hitam di pembukuan proyek mungkin tak banyak, tapi selisih mental di tengah masyarakat makin terasa.
Dan sayangnya, fenomena ini bukan cerita baru.
Ketika kota maju lebih cepat daripada karakter manusianya, selalu ada jurang tempat orang tergelincir mencari jalan pintas.
Ketiga pelaku kini menjalani proses hukum, dan besar kemungkinan mendapat pelajaran yang tak diajarkan di sekolah:
Kalkulasi risiko jauh lebih mahal daripada harga besi lembaran.
Pada akhirnya, warga Bengkong kembali diingatkan bahwa industri boleh tumbuh, pembangunan boleh menggeliat, tapi kalau integritas ikut digrabokan, maka pencurian hanyalah gejala dari penyakit yang lebih besar: krisis moral kota industri yang sedang tumbuh terlalu cepat untuk dirinya sendiri.
Penulis: Zul Hasibuan














