Oleh: Dwi Hartoyo
Selasa, 10 Februari 2026
Sanjungan memang terdengar manis, tetapi sering kali justru menjadi awal dari kejatuhan. Tidak sedikit orang yang gemar menyanjung hanya demi menyenangkan atasan asal bapak senang. Pujian seperti ini bukanlah bentuk loyalitas, melainkan jebakan halus yang bisa menjerumuskan.
Seorang pemimpin atau pejabat harus waspada terhadap “pembisik” yang hanya berani memuji, tetapi takut menyampaikan kesalahan. Ketika semua yang terdengar hanyalah kata-kata indah, di situlah bahaya sebenarnya mulai tumbuh. Kebijakan yang keliru bisa terus berjalan tanpa koreksi, hingga akhirnya berujung pada konsekuensi hukum dan penilaian buruk dari masyarakat.
Pemimpin yang bijak justru membutuhkan kritik, bukan pujian kosong. Ia harus membuka telinga terhadap suara yang jujur, sekalipun terasa pahit. Sebab, kesalahan dalam mengambil kebijakan tidak hanya berdampak sesaat, tetapi akan dikenang masyarakat sepanjang masa.
Di era digital seperti sekarang, setiap langkah pejabat berada dalam sorotan publik. Aktivis, kalangan intelektual, LSM, wartawan, hingga masyarakat umum memiliki ruang untuk menyuarakan pendapat melalui media sosial maupun media massa. Tidak ada lagi ruang bagi pemimpin untuk bersembunyi di balik pujian atau citra semu.
Karena itu, kritik baik berupa teguran langsung maupun melalui pemberitaan harus disikapi sebagai cermin untuk bercermin diri. Bukan untuk dimusuhi, apalagi dibungkam. Kritik adalah pengingat agar langkah tidak melenceng, dan amanah yang diberikan rakyat dapat dijalankan dengan benar.
Pemimpin sejati bukan yang paling banyak dipuji, melainkan yang paling berani menerima kebenaran, sekalipun itu datang dalam bentuk kritik yang tajam.














